Teracom Service Computer Menes. Melayani: service Computer, Printer, LCD, Monitor, Motherboard, HDD, Notebook/Laptop, Pemasangan Jaringan Visat, Wireles, Maintenance, hardware. Yang beralamat: Simpang 3 Ciputri Arah Pasar Menes. PANDEGLANG-BANTEN. HP: 0852 850 35584
Tampilkan postingan dengan label Cerita Sex. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Sex. Tampilkan semua postingan

Cerita ngentot janda kesepian


Cerita ngentot janda kesepian

Cerita ngentot janda seksi dan montok. Tetanggaku adalah seorang janda kesepian setengah baya yang digugat cerai suaminya. “Wow, itu cukup menarik,” kata Sue ketika ia menghilang. “Saya tidak menyadari betapa tanah randy Anda, Steph. Anda tidak akan berpikir bahwa Anda hanya mulai sialan sekitar hari ini cerita sex.”
“Mungkin, tapi aku sudah merasa seperti itu selama berminggu-minggu. Kau tahu, aku dengan mudah bisa membiarkan cowok beberapa memiliki eyeful tepat fanny saya, tanpa celana di jalan, maksudku Mereka mungkin juga akan pergi,. Karena mereka ‘kembali jenuh dalam hal apapun aku benar-benar jus sampai.. “
“Aku juga, tapi aku tidak tahu bahwa aku bisa kilat fanny saya di darah dingin seperti itu Setelah kita tarik beberapa cowok meskipun, tidak ada masalah..”
“Begini saja, biarkan aku mengambil celana saya off dan pria baik yang datang berikutnya, Anda flash dia celana Anda. Jika dia menunjukkan minat yang sama seperti yang terakhir dan kita bisa mendapatkan dia berbicara, aku akan kilat dia telanjang fanny. “
Dengan Steph yang dihapus celana basah kuyup dan menempatkan mereka ke tas bahunya. Duduk di sana dengan fanny dia terkena angin pendinginan dia merasa putus asa untuk masturbasi lagi dan mungkin akan melakukannya tapi untuk fakta bahwa lain “korban” sedang mendekat. Sama seperti ia akan menyelipkan tangannya roknya Sue menyikutnya dan menunjuk ke jalan di mana seorang pemuda berusia dua puluhan sedang berjalan ke arah mereka, mengenakan jeans dan t-shirt.
Steph cepat diasumsikan provokatif non netral menimbulkan sementara Sue tergeletak kakinya seluruh dan, hanya untuk memastikan dia melihat, mulai menjalankan jari di bawah elastis celana kaki seolah-olah itu terlalu ketat dan memotong ke dalam dirinya. Orang itu tidak bisa gagal untuk memperhatikan dan matanya hampir melompat keluar dari kepalanya saat ia menarik tingkat dengan gadis-gadis.
“Punya gatal, Sayang?” katanya, matanya tertuju pada celana Sue. “Ini biasanya lebih mudah untuk memuaskan jika Anda hanya mengambil mereka.”
“Ya, itulah yang teman saya di sini berkata Tapi aku sedikit lebih pendiam daripada dia..”
“Gila reserved.! Aku hampir bisa melihat semua yang anda punya. Dan celana Anda sialan basah kuyup, Anda sedikit asam. Jika Anda dilindungi apa sih dia?” ia menunjuk ke arah Steph.
“Mengapa kau tidak melihat dan melihat?” Steph ikut-ikutan, dan menarik roknya sampai beberapa inci, dia membuka kakinya sedikit untuk menampilkan pesona penuh pubes rapi nya. Pria itu menelan ludah, seakan tidak cukup percaya apa yang dilihatnya dan sejenak kehilangan kata-kata.
“Apakah Anda menyukai apa yang Anda lihat?” Steph mengatakan, hampir meraba sekitar pembukaan celah nya. “Anda bisa melihat lebih banyak jika Anda ingin Yang harus Anda lakukan adalah mari kita melihat ayam Anda dan mungkin masturbasi off untuk Anda.. Kami ingin melihat bagaimana sulitnya mendapatkan dan berapa banyak keberanian Anda bisa menembak . “
“Kristus, jangan Anda memakai celana dalam,” dia megap-megap. “Maksud saya berjalan-jalan seperti itu dengan rok kecil di, orang bisa melihat vagina Anda pada hampir setiap saat Anda bisa mendapatkan diperkosa atau apa..”
“Sebenarnya saya suka memakai banyak kurang dari ini saya lebih memilih untuk telanjang.. Jika Anda bermain bola dengan kami, mungkin aku akan menunjukkan semuanya.” Dia melihat dekat putingnya yang menonjol melalui kain tipis rompi dan menjilat bibirnya.
“Di mana kau ada dalam pikiran?” dia parau.
“Ikuti kami,” kata Sue, “tapi sebelum kita pergi, aku tampaknya telah kehilangan sedikit cadangan saya, saya pikir saya akan mengambil celana saya pergi juga.. Apakah Anda ingin membawa mereka untuk saya?” katanya mereka tergelincir ke bawah pahanya dan lebih dari pergelangan kakinya sebelum membuang mereka ke orang itu. Steph melihat bahwa Sue rambut fanny itu jauh lebih gelap dari sendiri, tapi itu rapi berbentuk menjadi segitiga kecil di atas celah, meninggalkan pembukaan itu sendiri bulu-bebas.
Sue dibawa pergi, mengambil Steph lengan dan berbisik, “Aku tahu tempat di pinggir jalur kereta api tua bekas. Ada banyak pembukaan lahan kecil yang dikelilingi oleh semak-semak.” Pemuda diikuti, tidak cukup percaya keberuntungan, dan menonton dua gelandangan yang sangat indah menggeliat provokatif di depannya, mengetahui bahwa di bawah strip tipis bahan mereka telanjang.
Mereka segera menemukan tempat Sue mencari dan itu yang ideal. Untuk sesaat semua tiga berdiri saling menatap, bertanya-tanya siapa yang harus mengambil langkah selanjutnya. “Ayo, mendapatkan ayam Anda keluar bagi kita untuk melihat,” Sue ditekan.
“Apakah kalian yakin tentang hal ini?” tanyanya.
“Jika Anda pemalu, hal ini membantu sama sekali?” Steph mengatakan, membuka kancing roknya dan membiarkannya menyelinap ke tanah di kakinya. Kemudian dia menyelipkan rompi dari atas kepala dan berdiri di sana telanjang bulat di depan pria. “Apakah ini membuat Anda keras?”
Cepat-cepat ia mulai melepaskan celana jinsnya dan menarik mereka turun bersama-sama dengan celana dalamnya dalam satu gerakan cepat, bingung dan semi-tegak kemaluannya melompat ke dalam pandangan. Steph mengambil semuanya, ayam nya yang pertama. Saat itu sekitar empat inci panjang, tebal dan berbarik-barik, samar-samar mengancam. Di bawahnya menggantung satu set bola besar, ditutupi dengan rambut, berayun bebas. “Ini akan mendapatkan lebih keras dan lebih besar dari ini,” katanya hampir meminta maaf. “Saya perlu memberikan sedikit pijat.” Dengan itu ia mulai masturbasi kemaluannya dengan lembut naik turun saat ia berpesta matanya pada tubuh telanjang Steph, minum di keindahan payudara mereka perusahaan yang indah, menunjuk puting susu dan janji-janji yang terdapat di antara kedua kakinya. Next untuk Steph, Sue sudah tangannya gaunnya dan membelai pubes nya, tak terlihat.
“Dapatkah saya melakukannya untuk Anda?” Steph bertanya dan dia mengangguk, tercengang. Dia pindah ke dia dan mengambil kemaluannya di tangannya dan menemukan hal yang cukup bertonjol. Dia membelai itu, membelai, membelai bola-nya dan merasa sedikit kelembaban di ujung. “Anda dapat merasakan saya sebagai juga, jika Anda suka,” katanya, “tapi bahwa sejauh Anda pergi. Sialan Dilarang, oke?” Dia berdiri di sampingnya, membuka kakinya sedikit untuk mengakomodasi tangan bersemangat dan bergidik keras sebagai jari tangan kasar menembus basah hangat.
Sue sekarang telah benar-benar dihapus baju sendiri dan menonton penuh perhatian, jari sibuk bekerja pada klitorisnya sendiri dan mencubit puting dan meremas payudaranya dengan tangannya yang bebas. Karena Steph begitu dekat dengannya, dia benar-benar menonton masturbasi dan dia tidak pernah merasakan kegembiraan seperti itu. Setiap keraguan sisa sekarang benar-benar hilang, sekarang Sue bersandar pohon terdekat, menyebar kakinya dan menarik labia terpisah sehingga ia bisa melihat hampir semua yang dia inginkan sendiri celah nya basah, merah muda.
Steph sekarang sudah menyempurnakan ritme wanking dan meningkatkan kecepatan tangannya. Memimpin nya dari dia, dia juga meningkatkan kecepatan tangannya sendiri diantara kakinya dan Steph tahu dia akan segera orgasme. Kakinya terasa goyah lagi dan dia dijepit mereka tertutup, menjebak tangannya seperti wakil. Semua yang melakukan bagaimanapun, adalah untuk menonaktifkan kontraksi tak terelakkan saat ia jatuh cepat ke orgasme begitu keras sehingga dia hampir pingsan. Dia jatuh di tanah, tangannya di antara kedua kakinya mencengkeram vaginanya berdenyut saat setiap kejang berturut-turut memukulnya. Mendongak untuk melihat apa yang pria itu lakukan dia melihat dia mengambil kemaluannya ke tangan sendiri dan masturbasi sebagai olah ia mencoba untuk menariknya keluar. Dia melihat bola-ototnya menegang, memerah wajahnya dan kemudian dia melihat dan merasakan jet panas keberanian menembak keluar dari mata kemaluannya dan memerciki di atas tubuhnya yang telanjang, percikan perutnya, payudara dan wajah dengan solusi asin, lengket.
Sue kemudian mengerang dan, berbalik untuk menonton, mereka melihatnya juga orgasme, jari-jarinya terjun jauh ke dalam vaginanya saat ia spasmed. Hampir sebelum mereka bisa memulihkan orang itu mulai untuk mengangkut jeans dan untuk membuat dirinya layak lagi, banyak kekecewaan gadis-gadis ‘.
“Terima kasih, gadis itu sedang meniduri indah.. Tapi aku mendapatkan beberapa pakaian jika aku jadi kau Kau harus sedikit berhati-hati,. Kau tahu.” Dan dengan itu ia menghilang dari kliring meninggalkan anak perempuan di sana, telanjang, saling memandang.
“Wow, bagaimana Anda merasa kemudian Steph bertanya? Sue.
“Benar-benar shagged, tapi puas Bukankah itu benar-benar besar? Yesus, Steph, Anda harus melihat sendiri.. Anda tercakup dalam keberanian.”
“Mmm, ya, saya, bukan?” Steph menjawab, mencicipi sedikit cairan dengan cepat menipis menggiring bola di wajahnya. Dia menarik celana dalamnya keluar dari tas bahunya dan menggunakannya, sebaik dia bisa kering sendiri. Tidak mudah karena celana dalamnya masih agak basah. Bau seks di mana-mana di tanah kosong itu.
“Neraka, ia pergi dengan celana saya,” kata Sue dan kemudian mereka berdua tertawa. “Oh well, dia dipersilakan untuk mereka, saya kira saya harus sedikit berhati-hati dalam perjalanan pulang sekalipun..”
“Jangan khawatir, aku akan bergabung dengan Anda Kami berdua akan memakai celana lagi hari ini.. Harus cukup rumah berjalan yang menarik. Aku yakin kita berdua bisa lakukan dengan masturbasi lain dengan saat kita kembali.”
Mereka meletakkan pakaian mereka kembali, merapikan diri mereka sebaik mereka bisa dan berangkat pulang, sadar kondisi telanjang di dekat mereka, membahas kejadian hari itu dan apakah mereka harus melakukannya lagi.

Cerita sex ngentot cewek perawan


Cerita sex ngentot cewek abg sma masih perawan – Aku seorang mahasiswa berumur 21 tahun. Pada saat liburan semester aku pulang ke kampungku di Garut. Untuk mengatasi kejenuhan, aku jalan-jalan di kota tersebut. Dan masuk ke sebuah pusat belanja di kota kecil itu. Secara tak sengaja aku memandangi seorang gadis yang bisa dikatakan cantik. Wajahnya memancarkan kecantikan alami yang jarang ditemui pada seorang gadis kota.
Singkat cerita kami berkenalan. Namanya Ani, berumur 16 tahun. Duh, senang sekali aku bisa kenalan dengan gadis seperti dia. Bulan demi bulan telah berlalu, kamipun semakin akrab dan sering berhubungan lewat telepon. Singkat kata, kamipun sepakat untuk menjadi sepasang kekasih.
Pada liburan semester selanjutnya, kami berjanji bertemu di rumahnya. Rumahnya sih sederhana, maklum bapaknya hanya pedagang kecil, tapi bukan itu yang aku lihat. Malam itu kami berdua menonton layar tancap, hal yang sebenarnya cukup simple tapi yah namanya juga lagi kasmaran. Kami pulang jam sembilan malam atas keinginan Ani. Ternyata sampai di rumah pacarku, kami hanya menerima titipan kunci rumah. Keluarganya sedang pergi menegok teman ayah pacarku yang sedang sakit keras.
Malam itu dingin sekali, Ani permisi untuk ganti pakaian. Saat kulihat Ani dengan pakaiannya yang sederhana itu aku terpaku, betapa cantik dan anggunnya dia walaupun hanya memakai pakaian biasa. Aneh, ada seuatu yang aneh yang menjalar ke perasaanku.
“Lho, ada apa Kang?”, tanya Ani.
“Ah, nggak ada apa-apa!”, jawabku.
“Kok melihat Ani terus?”, tanyanya lagi.
“Ngak kok!”, jawabku.
“Kamu cantik, An”.
“Ah Akang!”, katanya lagi dengan tersipu.
Lama kami berpandangan, dan aku mulai mendekati dirinya. Aku pegang tangannya, lalu kuraba, betapa lembut tangannya. Kami saling berpegangan, meraba dan membelai. Perlahan kubuka pakaiannya satu persatu, kulihat ia dalam keadaan setengah telanjang. Kupandangi dadanya di balik BH putihnya, kupandangi seluruh tubuhnya, kulitnya yang sawo matang.
“Kang, bener Akang cinta ama saya?”, tanyanya lagi.
“Bener, Akang cinta ama kamu!”, jawabku sambil membuka BH dan Celana dalam warna putihnya.
Kini ia polos tanpa satu benangpun menutupi tubuhnya. Kubaringkan ia di tempat tidur, lalu kuciumi seluruh tubuhnya. Tubuh Ani bergetar hebat, menandakan bahwa dia baru pertama kali ini melakukan hubungan seks dengan lawan jenisnya.
Lalu kubuka selangkangannya dan kumasukkan penisku dengan extra hati-hati. Ani mengerang dengan pasrah, lalu kusuruh ia untuk menggigit bantal agar suaranya tidak kedengaran oleh tetangga. Kugerakkan penisku, maju mundur. Mata Ani merem melek keenakan. Nafasku mulai memburu, dan Ani mulai tidak bisa mengontrol dirinya, dia memegang bantal dengan eratnya, gerakanku semakin cepat, aku ingin sekali menembus pertahanannya yang rapat itu. Kupegangi payudaranya, kujilat, kukulum, dan kurasakan penisku mulai menegang dan, “Cret…, cret…, cret”. Spermaku keluar dengan deras, Ani memelukku dengan erat dan kamipun terbaring kelelahan. Dalam hati aku bertekad untuk menikahi gadis itu, karena aku sangat mencintainya.
TAMAT

Nakalnya Tante Cantik



Nakalnya Tante Cantik, “Kriing..” jam di meja memaksa aku untuk memicingkan mata. “Wah gawat, telat nih” dengan tergesa-gesa aku bangun lalu lari ke kamar mandi. Pagi itu aku ada janji untuk menjaga rumah tanteku.
Oh ya, tanteku ini orangnya cantik dengan wajah seperti artis sinetron, namanya Ninik. Tinggi badan 168, payudara 34, dan tubuh yang langsing. Sejak kembali dari Malang, aku sering main ke rumahnya. Hal ini aku lakukan atas permintaan tante Ninik, karena suaminya sering ditugaskan ke luar pulau.
Oh ya, tante Ninik mempunyai dua anak perempuan Dini dan Fifi. Dini sudah kelas 2 SMA dengan tubuh yang langsing, payudara 36B, dan tinggi 165. Sedangkan Fifi mempunyai tubuh agak bongsor untuk gadis SMP kelas 3, tinggi 168 dan payudara 36. Setiap aku berada di rumah tante Fifi aku merasa seperti berada di sebuah harem. Tiga wanita cantik dan seksi yang suka memakai baju-baju transparan kalau di rumah.
Kali ini aku akan ceritakan pengalamanku dengan tante Ninik di kamarnya ketika suaminya sedang tugas dinas luar pulau untuk 5 hari.
Hari Senin pagi, aku memacu motorku ke rumah tante Ninik. Setelah perjalanan 15 menit, aku sampai di rumahnya. Langsung aku parkir motor di teras rumah. Sepertinya Dini dan Fifi masih belum berangkat sekolah, begitu juga tante Ninik belum berangkat kerja.
“Met pagi semua” aku ucapkan sapaan seperti biasanya.
“Pagi, Mas Firman. Lho kok masih kusut wajahnya, pasti baru bangun ya?” Fifi membalas sapaanku.
“Iya nih kesiangan” aku jawab sekenanya sambil masuk ke ruang keluarga.
“Fir, kamu antar Dini dan Fifi ke sekolah ya. Tante belum mandi nih. Kunci mobil ada di tempat biasanya tuh.” Dari dapur tante menyuruh aku.
“OK Tante” jawabku singkat.
“Ayo duo cewek paling manja sedunia.” celetukku sambil masuk ke mobil.
Iya lho, Dini dan Fifi memang cewek yang manja, kalau pergi selalu minta diantar.
“Daag Mas Firman, nanti pulangnya dijemput ya.” Lalu Dini menghilang dibalik pagar sekolahan.
Selesai sudah tugasku mengantar untuk hari ini. Kupacu mobil ke rumah tante Ninik.
Setelah parkir mobil aku langsung menuju meja makan, lalu mengambil porsi tukang dan melahapnya. Tante Ninik masih mandi, terdengar suara guyuran air agak keras. Lalu hening agak lama, setelah lebih kurang lima menit tidak terdengar gemericik air aku mulai curiga dan aku hentikan makanku. Setelah menaruh piring di dapur. Aku menuju ke pintu kamar mandi, sasaranku adalah lubang kunci yang memang sudah tidak ada kuncinya. Aku matikan lampu ruang tempatku berdiri, lalu aku mulai mendekatkan mataku ke lubang kunci. Di depanku terpampang pemandangan alam yang indah sekali, tubuh mulus dan putih tante Ninik tanpa ada sehelai benang yang menutupi terlihat agak mengkilat akibat efek cahaya yang mengenai air di kulitnya. Ternyata tante Ninik sedang masturbasi, tangan kanannya dengan lembut digosok-gosokkan ke vaginanya. Sedangkan tangan kiri mengelus-elus payudaranya bergantian kiri dan kanan.
Terdengar suara desahan lirih, “Hmm, ohh, arhh”. Kulihat tanteku melentingkan tubuhnya ke belakang, sambil tangan kanannya semakin kencang ditancapkan ke vagina. Rupanya tante Ninik ini sudah mencapai orgasmenya. Lalu dia berbalik dan mengguyurkan air ke tubuhnya. Aku langsung pergi ke ruang keluarga dan menyalakan televisi. Aku tepis pikiran-pikiran porno di otakku, tapi tidak bisa. Tubuh molek tante Ninik, membuatku tergila-gila. Aku jadi membayangkan tante Ninik berhubungan badan denganku.
“Lho Fir, kamu lagi apa tuh kok tanganmu dimasukkan celana gitu. Hayo kamu lagi ngebayangin siapa? Nanti aku bilang ke ibu kamu lho.” Tiba-tiba suara tante Ninik mengagetkan aku.
“Kamu ini pagi-pagi sudah begitu. Mbok ya nanti malam saja, kan enak ada lawannya.” Celetuk tante Ninik sambil masuk kamar.
Aku agak kaget juga dia ngomong seperti itu. Tapi aku menganggap itu cuma sekedar guyonan. Setelah tante Ninik berangkat kerja, aku sendirian di rumahnya yang sepi ini. Karena masih ngantuk aku ganti celanaku dengan sarung lalu masuk kamar tante dan langsung tidur.
“Hmm.. geli ah” Aku terbangun dan terkejut, karena tante Ninik sudah berbaring disebelahku sambil tangannya memegang Mr. P dari luar sarung.
“Waduh, maafin tante ya. Tante bikin kamu terbangun.” Kata tante sambil dengan pelan melepaskan pegangannya yang telah membuat Mr. P menegang 90%.
“Tante minta ijin ke atasan untuk tidak masuk hari ini dan besok, dengan alasan sakit. Setelah ambil obat dari apotik, tante pulang.” Begitu alasan tante ketika aku tanya kenapa dia tidak masuk kerja.
“Waktu tante masuk kamar, tante lihat kamu lagi tidur di kasur tante, dan sarung kamu tersingkap sehingga celana dalam kamu terlihat. Tante jadi terangsang dan pingin pegang punya kamu. Hmm, gedhe juga ya Mr. P mu” Tante terus saja nyerocos untuk menjelaskan kelakuannya.
“Sudahlah tante, gak pa pa kok. Lagian Firman tahu kok kalau tante tadi pagi masturbasi di kamar mandi” celetukku sekenanya.
“Lho, jadi kamu..” Tante kaget dengan mimik setengah marah.
“Iya, tadi Firman ngintip tante mandi. Maaf ya. Tante gak marah kan?” agak takut juga aku kalau dia marah.
Tante diam saja dan suasana jadi hening selama lebih kurang 10 menit. Sepertinya ada gejolak di hati tante. Lalu tante bangkit dan membuka lemari pakaian, dengan tiba-tiba dia melepas blaser dan mengurai rambutnya. Diikuti dengan lepasnya baju tipis putih, sehingga sekarang terpampang tubuh tante yang toples sedang membelakangiku. Aku tetap terpaku di tempat tidur, sambil memegang tonjolan Mr. P di sarungku. Bra warna hitam juga terlepas, lalu tante berbalik menghadap aku. Aku jadi salah tingkah.
“Aku tahu kamu sudah lama pingin menyentuh ini..” dengan lembut tante berkata sambil memegang kedua bukit kembarnya.
“Emm.., nggak kok tante. Maafin Firman ya.” aku semakin salah tingkah.
“Lho kok jadi munafik gitu, sejak kapan?” tanya tanteku dengan mimik keheranan.
“Maksud Firman, nggak salahkan kalau Firman pingin pegang ini..!” Sambil aku tarik bahu tante ke tempat tidur, sehingga tante terjatuh di atas tubuhku. Langsung aku kecup payudaranya bergantian kiri dan kanan.
“Eh, nakal juga kamu ya.. ihh geli Fir.” tante Ninik merengek perlahan.
“Hmm..shh” tante semakin keras mendesah ketika tanganku mulai meraba kakinya dari lutut menuju ke selangkangannya.
Rok yang menjadi penghalang, dengan cepatnya aku buka dan sekarang tinggal CD yang menutupi gundukan lembab. Sekarang posisi kami berbalik, aku berada di atas tubuh tante Ninik. Tangan kiriku semakin berani meraba gundukan yang aku rasakan semakin lembab. Ciuman tetap kami lakukan dibarengi dengan rabaan di setiap cm bagian tubuh. Sampai akhirnya tangan tante masuk ke sela-sela celana dan berhenti di tonjolan yang keras.
“Hmm, boleh juga nih. Sepertinya lebih besar dari punyanya om kamu deh.” tante mengagumi Mr. P yang belum pernah dilihatnya.
“Ya sudah dibuka saja tante.” pintaku. Lalu tante melepas celanaku, dan ketika tinggal CD yang menempel, tante terbelalak dan tersenyum.
“Wah, rupanya tante punya Mr. P lain yang lebih gedhe.” Gila tante Ninik ini, padahal Mr. P-ku belum besar maksimal karena terhalang CD.
Aksi meremas dan menjilat terus kami lakukan sampai akhirnya tanpa aku sadari, ada hembusan nafas diselangkanganku. Dan aktifitas tante terhenti. Rupanya dia sudah berhasil melepas CD ku, dan sekarang sedang terperangah melihat Mr. P yang berdiri dengan bebas dan menunjukkan ukuran sebenarnya.
“Tante.. ngapain berhenti?” aku beranikan diri bertanya ke tante, dan rupanya ini mengagetkannya.
“Eh.. anu.. ini lho, punya kamu kok bisa segitu ya..?” agak tergagap juga tante merespon pertanyaanku.
“Gak panjang banget, tapi gemuknya itu lho.. bikin tante merinding” sambil tersenyum dia ngoceh lagi. Tante masih terkesima dengan Mr. P-ku yang mempunyai panjang 14 cm dengan diameter 4 cm.
“Emangnya punya om gak segini? ya sudah tante boleh ngelakuin apa aja sama Mr. P ku.” Aku ingin agar tante memulai ini secepatnya.
“Hmm, iya deh.” Lalu tante mulai menjilat ujung Mr. P. Ada sensasi enak dan nikmat ketika lidah tante mulai beraksi naik turun dari ujung sampai pangkal Mr. P
“Ahh.. enak tante, terusin hh.” aku mulai meracau.
Lalu aku tarik kepala tante Ninik sampai sejajar dengan kepalaku, kami berciuman lagi dengan ganasnya. Lebih ganas dari ciuman yang pertama tadi. Tanganku beraksi lagi, kali ini berusaha untuk melepas CD tante Ninik. Akhirnya sambil menggigit-gigit kecil puting susunya, aku berhasil melepas penutup satu-satunya itu. Tiba-tiba, tante merubah posisi dengan duduk di atas dadaku. Sehingga terpampang jelas vaginanya yang tertutup rapat dengan rambut yang dipotong rapi berbentuk segitiga.
“Ayo Fir, gantian kamu boleh melakukan apa saja terhadap ini.” Sambil tangan tante mengusap vaginanya.
“OK tante” aku langsung mengiyakan dan mulai mengecup vagina tante yang bersih.
“Shh.. ohh” tante mulai melenguh pelan ketika aku sentuh klitorisnya dengan ujung lidahku.
“Hh.. mm.. enak Fir, terus Fir.. yaa.. shh” tante mulai berbicara tidak teratur.
Semakin dalam lidahku menelusuri liang vagina tante. Semakain kacau pula omongan tante Ninik. “Ahh..Fir..shh..Firr aku mau keluar.” tante mengerang dengan keras.
“Ahh..” erangan tante keras sekali, sambil tubuhnya dilentingkan ke kebelakang. Rupanya tante sudah mencapai puncak. Aku terus menghisap dengan kuat vaginanya, dan tante masih berkutat dengan perasaan enaknya.
“Hmm..kamu pintar Fir. Gak rugi tante punya keponakan seperti kamu. Kamu bisa jadi pemuas tante nih, kalau om kamu lagi luar kota. Mau kan?” dengan manja tante memeluk tubuhku.
“Ehh, gimana ya tante..” aku ngomgong sambil melirik ke Mr. P ku sendiri.
“Oh iya, tante sampai lupa. Maaf ya” tante sadar kalau Mr. P ku masih berdiri tegak dan belum puas.
Dipegangnya Mr. P ku sambil bibirnya mengecup dada dan perutku. Lalu dengan lembut tante mulai mengocok Mr. P. Setelah lebih kurang 15 menit tante berhenti mengocok.
“Fir, kok kamu belum keluar juga. Wah selain besar ternyata kuat juga ya.” tante heran karena belum ada tanda-tanda mau keluar sesuatu dari Mr.Pku.
Tante bergeser dan terlentang dengan kaki dijuntaikan ke lantai. Aku tanggap dengan bahasa tubuh tante Ninik, lalu turun dari tempat tidur. Aku jilati kedua sisi dalam pahanya yang putih mulus. Bergantian kiri-kanan, sampai akhirnya dipangkal paha. Dengan tiba-tiba aku benamkan kepalaku di vaginanya dan mulai menyedot. Tante menggelinjang tidak teratur, kepalanya bergerak ke kiri dan kanan menahan rasa nikmat yang aku berikan. Setelah vagina tante basah, tante melebarkan kedua pahanya. Aku berdiri sambil memegang kedua pahanya. Aku gesek-gesekkan ujung Mr. P ke vaginanya dari atas ke bawah dengan pelan. PErlakuanku ini membuat tante semakin bergerak dan meracau tidak karuan.
“Tante siap ya, aku mau masukin Mr. P” aku memberi peringatan ke tante.
“Cepetan Fir, ayo.. tante sudah gak tahan nih.” tante langsung memohon agar aku secepatnya memasukkan Mr. P. Dengan pelan aku dorong Mr. P ke arah dalam vagina tante Ninik, ujung kepalaku mulai dijepit bibir vaginanya. Lalu perlahan aku dorong lagi hingga separuh Mr. P sekarang sudah tertancap di vaginanya. Aku hentikan aktifitasku ini untuk menikmati moment yang sangat enak. Pembaca cobalah lakukan ini dan rasakan sensasinya. Pasti Anda dan pasangan akan merasakan sebuah kenikmatan yang baru.
“Fir, kok rasanya nikmat banget.. kamu pintar ahh.. shh” tante berbicara sambil merasa keenakan.
“Ahh.. shh mm, tante ini cara Firman agar tante juga merasa enak” Aku membalas omongan tante.
Lalu dengan hentakan lembut aku mendorong semua sisa Mr. P ke dalam vagina tante.
“Ahh..” kami berdua melenguh.
Kubiarkan sebentar tanpa ada gerakan, tetapi tante rupanya sudah tidak tahan. Perlahan dan semakin kencang dia menggoyangkan pinggul dan pantatnya dengan gerakan memutar. Aku juga mengimbanginya dengan sodokan ke depan. Vagina tante Ninik ini masih kencang, pada saat aku menarik Mr. P bibir vaginanya ikut tertarik.
“Plok.. plok.. plokk” suara benturan pahaku dengan paha tante Ninik semakin menambah rangsangan.
Sepuluh menit lebih kami melakukan gaya tersebut, lalu tiba-tiba tante mengerang keras “Ahh.. Fir tante nyampai lagi”
Pinggulnya dirapatkan ke pahaku, kali ini tubuhnya bergerak ke depan dan merangkul tubuhku. Aku kecup kedua payudaranya. dengan Mr. P masih menancap dan dijepit Vagina yang berkedut dengan keras. Dengan posisi memangku tante Ninik, kami melanjutkan aksi. Lima belas menit kemudian aku mulai merasakan ada desakan panas di Mr. P.
“Tante, aku mau keluar nih, di mana?” aku bertanya ke tante.
“Di dalam aja Fir, tante juga mau lagi nih” sahut tante sambil tubuhnya digerakkan naik turun. Urutan vaginanya yang rapat dan ciuman-ciumannya akhirnya pertahananku mulai bobol.
“Arghh.. tante aku nyampai”.
“Aku juga Fir.. ahh” tante juga meracau. Aku terus semprotkan cairan hangat ke vagina tante. setelah delapan semprotan tante dan aku bergulingan di kasur. Sambil berpelukan kami berciuman dengan mesra.
“Fir, kamu hebat.” puji tante Ninik.
“Tante juga, vagina tante rapet sekali” aku balas memujinya.
“Fir, kamu mau kan nemani tante selama om pergi” pinta tante.
“Mau tante, tapi apa tante gak takut hamil lagi kalau aku selalu keluarkan di dalam?” aku balik bertanya.
“Gak apa-apa Fir, tante masih ikut KB. Jangan kuatir ya sayang” Tante membalas sambil tangannya mengelus dadaku.
Akhirnya kami berpagutan sekali lagi dan berpelukan erat sekali. Rasanya seperti tidak mau melepas perasaan nikmat yang barusan kami raih. Lalu kami mandi bersama, dan sempat melakukannya sekali lagi di kamar mandi.
*****
Itulah pengalamanku dengan tante Ninik. Ternyata enak juga bermain dengan wanita yang berumur 40-an. Semenjak itu aku sering dapat telepon ajakan untuk berkencan dengan tante-tante. Rupanya tante Ninik menceritakan hal kehebatanku kepada teman-temannya.

Toket Besar Ayam Kampus



Toket Besar Ayam Kampus, Pada waktu itu aku pulang dari kampus sekitar pukul 20:00 karena ada kuliah malam. Sesampainya di tempat kost, perutku minta diisi. Aku langsung saja pergi ke warung tempat langgananku di depan rumah. Warung itu milik Ibu Sari, umurnya 30 tahun. Dia seorang janda ditinggal mati suaminya dan belum punya anak. Orangnya cantik dan bodynya bagus. Aku melihat warungnya masih buka tapi kok kelihatannya sudah sepi. Wah, jangan-jangan makanannya sudah habis, aduh bisa mati kelaparan aku nanti. Lalu aku langsung masuk ke dalam warungnya.
“Tante..?” “Eee.. Dik Sony, mau makan ya?” “Eee.. ayam gorengnya masih ada, Tante?” “Aduhh.. udah habis tuch, ini tinggal kepalanya doang.” “Waduhh.. bisa makan nasi tok nich..” kataku memelas. “Kalau Dik Sony mau, ayo ke rumah tante. Di rumah tante ada persediaan ayam goreng. Dik Sony mau nggak?” “Terserah Tante aja dech..” “Tunggu sebentar ya, biar Tante tutup dulu warungnya?” “Mari saya bantu Tante.”
Lalu setelah menutup warung itu, saya ikut dengannya pergi ke rumahnya yang tidak jauh dari warung itu. Sesampai di rumahnya.. “Dik Sony, tunggu sebentar ya. Oh ya, kalau mau nonton TV nyalakan aja.. ya jangan malu-malu. Tante mau ganti pakaian dulu..” “Ya Tante..” jawabku.
Lalu Tante Sari masuk ke kamarnya, terus beberapa saat kemudian dia keluar dari kamar dengan hanya mengenakan kaos dan celana pendek warna putih. Wow keren, bodynya yang sexy terpampang di mataku, puting susunya yang menyembul dari balik kaosnya itu, betapa besar dan menantang susunya itu. Kakinya yang panjang dan jenjang, putih dan mulus serta ditumbuhi bulu-bulu halus.
Dia menuju ke dapur, lalu aku meneruskan nonton TV-nya. Setelah beberapa saat. “Dik.. Dik Sony.. coba kemari sebentar?” “Ya Tante.. sebentar..” kataku sambil berlari menuju dapur.
Setelah sampai di pintu dapur. “Ada apa Tante?” tanyaku. “E.. Tante cuman mau tanya, Dik Sony suka bagian mana.. dada, sayap atau paha?” “Eee.. bagian paha aja, Tante.” kataku sambil memandang tubuh Tante Sari yang tidak bisa diungkapkan oleh kata-kata. Tubuhnya begitu indah. “Dik Sony suka paha ya.. eehhmm..” katanya sambil menggoreng ayam. “Ya Tante, soalnya bagian paha sangat enak dan gurih.” kataku. “Aduhh Dik.. tolong Dik.. paha Tante gatel.. aduhh.. mungkin ada semut nakal.. aduhh..” Aku kaget sekaligus bingung, kuperiksa paha Tante. Tidak ada apa-apa.
“Nggak ada semutnya kok Tante..” kataku sambil memandang paha putih mulus plus bulu-bulu halus yang membuat penisku naik 10%. “Masak sih, coba kamu gosok-gosok pakai tangan biar gatelnya hilang.” pintanya. “Baik Tante..” lalu kugosok-gosok pahanya dengan tanganku. Wow, begitu halus, selembut kain sutera dari China. “Bagaimana Tante, sudah hilang gatelnya?” “Lumayan Dik, aduh terima kasih ya. Dik Sony pintar dech..” katanya membuatku jadi tersanjung. “Sama-sama Tante..” kataku. “Oke, ayamnya sudah siap.. sekarang Dik Sony makan dulu. Sementara Tante mau mandi dulu ya.” katanya. “Baik Tante, terima kasih?” kataku sambil memakan ayam goreng yang lezat itu.
Disaat makan, terlintas di pikiranku tubuh Tante Sari yang telanjang. Oh, betapa bahagianya mandi berdua dengannya. Aku tidak bisa konsentrasi dengan makanku. Pikiran kotor itu menyergap lagi, dan tak kuasa aku menolaknya. Tante Sari tidak menyadari kalau mataku terus mengikuti langkahnya menuju kamar mandi. Ketika pintu kamar mandi telah tertutup, aku membayangkan bagaimana tangan Tante Sari mengusap lembut seluruh tubuhnya dengan sabun yang wangi, mulai dari wajahnya yang cantik, lalu pipinya yang mulus, bibirnya yang sensual, lehernya yang jenjang, susunya yang montok, perut dan pusarnya, terus vaginanya, bokongnya yang montok, pahanya yang putih dan mulus itu. Aku lalu langsung saja mengambil sebuah kursi agar bisa mengintip lewat kaca di atas pintu itu. Di situ tampak jelas sekali.
Tante Sari tampak mulai mengangkat ujung kaosnya ke atas hingga melampaui kepalanya. Tubuhnya tinggal terbalut celana pendek dan BH, itu pun tak berlangsung lama, karena segera dia melucutinya. Dia melepaskan celana pendek yang dikenakannya, dan dia tidak memakai CD. Kemudian dia melepaskan BH-nya dan meloncatlah susunya yang besar itu. Lalu, dengan diguyur air dia mengolesi seluruh tubuhnya dengan sabun LUX, lalu tangannya meremas kedua susunya dan berputar-putar di ujungnya. Kejantananku seakan turut merasakan pijitannya jadi membesar sekitar 50%. Dengan posisi berdiri sambil bersandar tembok, Tante Sari meneruskan gosokannya di daerah selangkangan, sementara matanya tertutup rapat, mulutnya menyungging.
Beberapa saat kemudian.. “Ayo, Dik Sony.. masuk saja tak perlu mengintip begitu, kan nggak baik, pintunya nggak dikunci kok!” tiba-tiba terdengar suara dari Tante Sari dari dalam. Seruan itu hampir saja membuatku pingsan dan amat sangat mengejutkan. “Maaf yah Tante. Sony tidak sengaja lho,” sambil pelan-pelan membuka pintu kamar mandi yang memang tidak terkunci. Tetapi setelah pintu terbuka, aku seperti patung menyaksikan pemandangan yang tidak pernah terbayangkan. Tante Sari tersenyum manis sekali dan.. “Ayo sini dong temani Tante mandi ya, jangan seperti patung gicu?” “Baik Tante..” kataku sambil menutup pintu. “Dik Sony.. burungnya bangun ya?” “Iya Tante.. ah jadi malu saya.. abis Sony liat Tante telanjang gini mana harum lagi, jadi nafsu saya, Tante..” “Ah nggak pa-pa kok Dik Sony, itu wajar..” “Dik Sony pernah ngesex belum?” “Eee.. belum Tante..” “Jadi, Dik Sony masih perjaka ya, wow ngetop dong..” “Akhh.. Tante jadi malu, Sony.”
Waktu itu bentuk celanaku sudah berubah 70%, agak kembung, rupanya Tante Sari juga memperhatikan. “Dik Sony, burungnya masih bangun ya?” Aku cuman mengangguk saja, dan diluar dugaanku tiba-tiba Tante Sari mendekat dengan tubuh telanjangnya meraba penisku. “Wow besar juga burungmu, Dik Sony..” sambil terus diraba turun naik, aku mulai merasakan kenikmatan yang belum pernah kurasakan.
“Dik Sony.. boleh dong Tante liat burungnya?” belum sempat aku menjawab, Tante Sari sudah menarik ke bawah celana pendekku, praktis tinggal CD-ku yang tertinggal plus kaos T-shirtku. “Oh.. besar sekali dan sampe keluar gini, Dik Sony.” kata Tante sambil mengocok penisku, nikmat sekali dikocok Tante Sari dengan tangannya yang halus mulus dan putih itu. Aku tanpa sadar terus mendesah nikmat, tanpa aku tahu, penisku ternyata sudah digosok-gosokan diantara buah dadanya yang montok dan besar itu. “Ough.. Tante.. nikmat Tante.. ough..” desahku sambil bersandar di dinding.
Setelah itu, Tante Sari memasukkan penisku ke bibirnya, dengan buasnya dia mengeluar-masukkan penisku di mulutnya sambil sekali-kali menyedot, kadang-kadang juga dia menjilat dan menyedot habis 2 telur kembarku. Aku kaget, tiba-tiba Tante Sari menghentikan kegiatannya. Dia pegangi penisku sambil berjalan ke arah bak mandi, lalu Tante Sari nungging membelakangiku, sebongkah pantat terpampang jelas di depanku.
“Dik Sony.. berbuatlah sesukamu.. kerjain Tante ya?!” Aku melihat pemandangan yang begitu indah, vagina dengan bulu halus yang tidak terlalu lebat. Lalu langsung saja kusosor vaginanya yang harum dan ada lendir asin yang begitu banyak keluar dari vaginanya. Kulahap dengan rakus vagina Tante Sari, aku mainkan lidahku di klitorisnya, sesekali kumasukkan lidahku ke lubang vaginanya.
“Ough Sonn.. ough..” desah Tante Sari sambil meremas-remas susunya. “Terus Son.. Sonn..” aku semakin keranjingan, terlebih lagi waktu kumasukkan lidahku ke dalam vaginanya ada rasa hangat dan denyut-denyut kecil semakin membuatku gila.
Kemudian Tante Sari tidur terlentang di lantai dengan kedua paha ditekuk ke atas. “Ayo Dik Sony.. Tante udah nggak tahan.. mana burungmu Son?” “Tante udah nggak tahan ya?” kataku sambil melihat pemandangan demikian menantang, vaginanya dengan sedikit rambut lembut, dibasahi cairan harum asin demikian terlihat mengkilat, aku langsung menancapkan penisku di bibir vaginanya. “Aoghh..” teriak Tante Sari.
“Kenapa Tante..?” tanyaku kaget. “Nggak.. Nggak apa-apa kok Son.. teruskan.. teruskan..” Aku masukkan kepala penisku di vaginanya. “Sempit sekali Tante.. sempit sekali Tante?” ” Nggak pa-pa Son.. terus aja.. soalnya udah lama sich Tante nggak ginian.. ntar juga enak kok..” Yah, aku paksa sedikit demi sedikit, baru setengah dari penisku amblas. Tante Sari sudah seperti cacing kepanasan menggelepar kesana kemari.
“Ough.. Son.. ouh.. Son.. enak Son.. terus Son.. oughh..” desah Tante Sari, begitu juga aku walaupun penisku masuk ke vaginanya cuman setengah tapi kempotannya sungguh luar biasa, nikmat sekali. Semakin lama gerakanku semakin cepat, kali ini penisku sudah amblas dimakan vagina Tante Sari. Keringat mulai membasahi badanku dan badan Tante Sari.
Tiba-tiba Tante Sari terduduk sambil memelukku dan mencakarku. “Oughh Son.. ough.. luar biasa.. oughh.. Sonn..” katanya sambil merem melek. “Kayaknya aku mau orgasme.. ough..” penisku tetap menancap di vagina Tante Sari. “Dik Sony udah mau keluar ya?” Aku menggeleng, kemudian Tante Sari terlentang kembali. Aku seperti kesetanan menggerakkan badanku maju mundur, aku melirik susunya yang bergelantungan karena gerakanku, aku menunduk, kucium putingnya yang coklat kemerahan. Tante Sari semakin mendesah, “Ough.. Sonn..” tiba-tiba Tante Sari memelukku sedikit agak mencakar punggungku.
“Oughh.. Sonn.. aku keluar lagi..” Vaginanya kurasakan semakin licin dan semakin besar, tapi denyutannya semakin kerasa. Aku dibuat terbang rasanya. Ah, rasanya aku sudah mau keluar. Sambil terus goyang, kutanya Tante Sari. “Tante.. aku keluarin di mana Tante..? Di dalam boleh nggak..?” “Terseraahh.. Soonn..” desah Tante Sari. Kupercepat gerakanku, burungku berdenyut keras, ada sesuatu yang akan dimuntahkan oleh penisku. Akhirnya semua terasa enteng, badanku serasa terbang, ada kenikmatan yang sangat luar biasa. Akhirnya kumuntahkan laharku dalam vagina Tante Sari, masih kugerakkan badanku dan rupanya Tante Sari orgasme kembali lalu dia gigit dadaku, “Oughh..”
“Dik Sony.. Sonn.. kamu memang hebat..” Aku kembali mangenakann CD-ku serta celana pendekku. Sementara Tante Sari masih tetap telanjang, terlentang di lantai. “Dik Sony.. kalo mau beli makan malam lagi yah.. jam-jam sekian aja ya..” kata Tante Sari menggodaku sambil memainkan puting dan klitorisnya yang masih nampak bengkak. “Tante ingin Dik Sony sering makan di rumah Tante ya..” kata Tante Sari sambil tersenyum genit. Kemudian aku pulang, aku jadi tertawa sendiri karena kejadian tadi. Ya gimana tidak ketawa cuma gara-gara “Ayam Goreng” aku bisa menikmati indahnya bercinta dengan Tante Sari. Dunia ini memang indah.

Teracom

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More